Selasa, 12 Januari 2010

Aplikasi histopatologi

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Usaha-usaha pengembangan diagnosis penyakit dan isolasi patogen dari organ dalam tubuh akan membantu dalam manajemen penyakit yang bersangkutan. Dari hasil tersebut dapat dilakukan pengambilan keputusan dalam usaha-usaha pencegahan penyakit, termasuk pembuatan vaksin dan vaksinasi. Mengingat diagnosis adalah kunci utama keberhasilan dalam upaya pengendalian penyakit. Oleh karena itu metode diagnosis yag benar akan dapat ditentukan jenis penyakitnya sehingga dapat dipilih tindakan preventif dan kuratif. Penyingkapan terhadap kasus penyakit harus dilakukan secara tuntas untuk menunjang kebenaran diagnosis.

Salah satu metode yang dipilih untuk pengamatan terhadap parameter biologis adalah melalui pengamatan histopatologi. Pemeriksaan histologi adalah salah satu cara untuk mendeteksi adanya komponen patogen yang bersifat infektif melalui pengamatan secara mikro anatomi. Pemeriksaan histopatologi dilakukan melalui pemeriksaan terhadap perubahan-perubahan abnormal pada tingkat jaringan. Pemeriksaan histopatologi bertujuan untuk memeriksa penyakit berdasarkan pada reaksi perubahan jaringan.

Pemeriksaan ini dilakukan melalui pemeriksaan terhadap perubahan-perubahan abnormal pada tingkat jaringan. Pemeriksaan ini hendaknya disertai dengan pengetahuan tentang gambaran histologi normal jaringan, respon jaringan terhadap etiologi dan patologi komparatif terhadap hewan-hewan kelas tinggi. Kepentingan pemeriksaan histopatologi dalam diagnose penyakit infeksi selain diketahui kemungkinan penyebab infeksinya, juga dapat dilakukan klasifikasi penyakit berdasarkan waktu dan distribusi penyakit. Dalam penentuan penyebaran infeksi dan tingkat keberlangsungan infeksi dapat dilihat dari peradangan dan infiltrasi sel radang yang ada (Purnomowati, dkk cit Kurniasih, 2002). Dalam kasus-kasus subklinis kelebihan metode ini adalah terdeteksinya penyakit infeksi pada ikan-ikan yang tidak menunjukkan gejala klinik. Selain itu pemeriksaan histopatologi juga ditujukan untuk mendeteksi sedini mungkin adanya penyakit metabolisme.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Kuliah seminar 1 sks bertujuan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dalam penyusunan makalah dan mempresentasikannya.

2. Tujuan khusus

a. Mengetahui teknik histopatologi dalam diagnosis penyakit viral pada udang windu.

b. Mempelajari aplikasi histopatologi untuk diagnosis penyakit viral pada udang windu.

C. Manfaat

Seminar 1 sks ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan, pengetahuan, keterampilan mahasiswa mengenai aplikasi histopatologi untuk diagnosis penyakit viral pada udang windu.

II. POKOK PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN

A. Histopatologi

Histopatologi adalah cabang biologi yang mempelajari kondisi dan fungsi jaringan dalam hubungannya dengan penyakit. Histopatologi sangat penting dalam kaitannya dengan diagnosis penyakit karena salah satu pertimbangan dalam penentuan diagnosis adalah melalui hasil pengamatan terhadap jaringan yang diduga terganggu. Histopatologi dapat dilakukan dengan mengambil sampel jaringan atau dengan mengamati jaringan setelah kematian terjadi. Dengan membandingkan kondisi jaringan sehat terhadap jaringan sampel dapat diketahui apakah suatu penyakit yang diduga benar-benar menyerang atau tidak (Anonim, 2008).

Aplikasi histopatologi merupakan suatu cara membuat preparat dengan menipiskan sel jaringan dari organ-organ tubuh baik ikan maupun udang . Untuk itu jaringan halus dapat ditanam pada parafin dengan pembekuan, selanjutnya jaringan dipotong. Prasyarat untuk mendapatkan histopatologi dan histokimia yang tepat dapat diperoleh dengan mengamati preparat dibawah mikroskop elektron. Preparat dari histopat mempunyai tanda spesifik yang terlihat dari jaringan sel dan struktur jaringan akibat serangan patogenisitas. Prosedur dari aplikasi histopatologi organ udang atau ikan yang terinfeksi adalah mempunyai dasar dari metode histologi (Eg hofman 1961, Stohr et, 1963; Voss 1964 dalam Scaperclause, 1992). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Fahris, Setyowati dan Taslihan ( 2004), pembuatan preparat histology dapat dilihat pada gambar 1.

Menurut Suntoro (1983), histopatologi jaringan bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya mikroorganisme yang bersifat patogen dalam jaringan hewan atau manusia. Histopatologi juga bermanfaat untuk membedakan luka akibat racun atau bakteri dengan struktur normal.

B. Teknik Histopatologi

Teknik histopatologi merupakan suatu cara yang dilakukan untuk melihat perubahan metobolisme dari perubahan jaringan yang terjadi. Pemeriksaan dapat dilakukan terhadap udang yang sakit, diduga sakit dan yang sudah mati. Pemeriksaan kondisi udang ditempat pemeliharaan dan lingkungan sangat membantu dalam menentukan diagnosis penyakit. Menurut Kurniasih (1999), peralatan yang digunakan dalam teknik histopatologi meliputi:

- Alas dari bahan kayu/ plastik untuk pemotong jaringan.

- Scalpel untuk memotong jaringan menjadi ukuran lebih kecil.

- Pensil dan kertas untuk memberi tanda/ kode jaringan.

- Cassette berukuran kurang lebih 3 x 4 x 1 cm untuk menaruh jaringan setelah dipotong kecil-kecil.

- Tabung gelas berukuran 500- 1000 cc sebanyak kurang lebih 10 buah untuk proses dehidrasi, clearing dan bloking dengan parafin.

- Microtome untuk memotong jaringan setebal 4-7 um.

- Waterbath untuk mengembangkan hasil potongan jaringan yang ditaruh diobyek gelas.

- Mesin pemanas (incubator temp 56oC – 60oC) untuk mencairkan parafin selama proses blocking.

- Kulkas untuk menyimpan bahan kimia dan menyimpan hasil blocking.

- Gelas obyek dan gelas penutup (cover).

- Light/ compound mikroskop.

Gambar 1. Skema pembuatan preparat histologi dengan pengecatan Haematoxylen dan Eosin (H&E)

1. Fiksasi

Fiksasi bertujuan agar jaringan mati secepatnya sehingga tidak terjadi perubahan pasca mati (autolisis post mortem) sehingga struktur jaringan sampel dapat dipertahankan seperti saat udang masih hidup (Gambar 1). Fiksasi ini dilakukan dengan cara perendaman sampel pada larutan Davidson selama 24- 72 jam. Dengan perbandingan 1 bagian specimen dan 10 bagian larutan Davidson. Sebelum dimasukkan dalam larutan fiksatif untuk udang tokolan (berat 10 gram) atau lebih besar dilakukan penyuntikan dengan larutan Davidson kemudian dipotong sedemikian rupa sehingga organ-organ target tidak rusak apabila contoh diterima dalam kondisi terfiksasi. Larutan fiksasi yang digunakan dalam pemeriksaan ini adalah Larutan Davidson. Dalam pemeriksaan histopatologi pada crustacea, termasuk udang, larutan yang direkomendasikan sebagai larutan fiksatif adalah larutan Davidson yang terdiri dari :

Ethanol 95 % 330 ml

Formalin 37 % 220 ml

Asam Asetat Glasial 115 ml

HO 335 ml

2. Preparasi organ atau jaringan target dari contoh

Organ atau jaringan untuk pemeriksaan WSSV adalah insang, jaringan subkutikular, lambung dan atau chepalothorax; untuk pemeriksaan YHV adalah insang, organ limpoid, jaringan subkutikular, lambung, dan atau chepalothorax; untuk MBV dan HPV adalah hepatopankreas. Seluruh organ target dalam pemeriksaaan dimasukkan dalam kaset embedding. Untuk larva udang seluruh bagian tubuh langsung dimasukkan dalam kaset embeding

3. Dehidrasi

Tahap ini merupakan proses menarik air dari jaringan dengan menggunakan bahan kimia tertentu. Bahan kimia untuk dehidrasi mempunyai sifat antara lain; mengeluarkan air dari jaringan, menggantikan dan digantikan oleh bahan penjernih (clearing), tidak mengubah sifat sediaan yang telah difiksasi. Proses ini dimulai dengan perendaman pada larutan alkohol 70 % hingga tahap perendaman alkohol 100% seperti yang ada pada gambar 2.

Stop

Start

Gambar 2. Bagan diagram alir dan bahan kimia yang diperlukan dalam jaringan pada automatic tissue processor.

4. Clearing

Tahap ini bertujuan untuk menghilangkan bahan kimia dehidrasi sehingga contoh sampel menjadi transparan. Bahan clearing ini mempunyai sifat mampu menggantikan mengantikan bahan kimia dehidrasi, mampu melarutkan parafin. Bahan yang dipergunakan adalah xylol sesuai dengan yang dilaksanakan pada gambar 2.

5. Infiltrasi

Teknis histologi ini untuk menyusupkan paraffin ke dalam jaringan sampel untuk menggantikan xylol yang telah hilang, sehingga sampel tidak rusak waktu pemotongan dengan mikrotom (lampiran 1.1).

6. Teknik embedding

Setelah clearing dan infiltrasi jaringan diambil dan ditempatkan pada paraffin mold dengan posisi sesuai tujuan pemeriksaan kemudian ditambahkan paraffin cair dan ditutup dengan cassete embedding. Selanjutnya dibekukan dan siap dipotong. Sebelum dipotong dilakukan proses trimming. Sampel yang sudah diiris pada bagian yang mengalami perubahan dimasukkan kedalam cassete embedding yang sudah diberi label dengan menggunakan pensil (lampiran 1.5).

7. Pemotongan

Pemotongan dilakukan dengan menggunakan mikrotom dengan ketebalan irisan 4-6 um. Hasil pemotongan diregangkan pada permukaan air floating bath (lampiran 1.2) yang bersuhu 45oC. Selanjutnya dilakukan penempelan irisan pada gelas objek yang telah diolesi dengan albumin-gliserin.

8. Pewarnaan jaringan dan sediaan preparat

Pewarnaan ini dipergunakan dengan teknik pewarnaan ganda haematoksilin dengan eosin. Proses pewarnaan dimulai dengan contoh sediaan (slide) lampiran 1.6 yang direndam dalam xylol I yang dapat dilihat pada gambar 3.

8.1.Deparafinasi dan rehidrasi

Tahap ini bertujuan untuk memberikan air pada contoh jaringan dari alkohol konsentrasi tinggi ke alkohol konsentrasi rendah dengan cara sampel dipindahkan dan direndam dalam alkohol absolut I hingga selanjutnya yang terpapar pada gambar 3.

8.2.Pewarnaan

Selanjutnya contoh sampel dipindahkan dan direndam dalam haematoksilin selama 15 menit hingga tahap perendaman dalam eosin selama 2-5 menit yang terpapar pada gambar 3.

8.3.Dehidrasi

Kemudian contoh sampel dipindahkan dan direndam dalam alkohol 95 % hingga tahap perendaman pada xylol II selama 2 menit (Gambar 3).

8.4.Pelekatan

Merupakan proses perekatan gelas pentup dengan zat perekat supaya sediaan jaringan tidak rusak. Pelekatan ini dilaksanakan setelah proses diatas kemudian angkat contoh sediaan dan keringkan pada suhu kamar dan parafn dibersihkan. Setelah preparat kering, ditetesi dengan bahan perekat entellan.

8.5.Penutupan

Tahap ini bertujuan untuk menempelkan gelas penutup sedemikian rupa sehingga tidak ada gelembung udara. Selanjutnya jaringan siap diamati dimikroskop.

Gambar 3. Bagan diagram alir dan bahan kimia yang diperlukan dalam jaringan pada Hematoxylen dan eosin (H & E)

9. Pengamatan

Pengamatan hasil untuk diagnosis dengan metode komparasi dibawah mikroskop cahaya pada pembesaran 100- 1000 x:

a. Preparat menunjukkan positif WSSV apabila ditemukan cirri perubahan sebagai berikut hiperthropi inti sel, adanya benda asing (inclusion body) tunggal bersifat eosinofilik di dalam inti sel, serta kromatin menepi kearah membran inti.

b. Preparat menunjukkan positif HPV apabila ditemukan cirri perubahan sebagai berikut abnormal hepatopankreas berupa benda inklusi tunggal dalam inti sel yang bersifat eosinofilik.

c. Preparat menunjukkan positif MBV apabila ditemukan cirri perubahan sebagai berikut abnormal hepatopankreas berupa kumpulan benda oklusi dalam inti sel yang menyerupai kumpulan buah anggur yang bersifat basofil.

d. Preparat menunjukkan positif YHV apabila ditemukan ciri sebagai berikut abnormal berupa benda inklusi di tepi inti atau perinuklea yang bersifat basofil.

C. Identifikasi penyakit Viral

Jenis virus yang menyebabkan penyakit pada udang penaeid ada 8 macam, yaitu BP (Baculovirus Penaeid), BMN (Baculoviral Midgut gland Necrosis), MBV (Monodon Baculovirus), IHHNV (Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus), HPV (Hepatopancreatic Parvo-like Virus), YHV (Yellow Head Virus), WSSV (White Spots Syndrome Virus) dan HPVREO (Hepatopancreatic Reo-like Virus). Beberapa virus tersebut berasal dari strain yang berbeda (Tabel 1) dan sering menyerang udang penaeid dengan tingkat infeksi yang berbeda (Tabel 2). Secara umum bagian tubuh yang terserang virus jenis Baculovirus adalah sel epitel hepatopancreas dan usus tengah. Untuk mengetahui gejala serangan virus jenis ini dapat diamati dibawah mikroskop melalui pemeriksaan histologi (Adisukresno, 1994).

Tabel 1. Jenis-jenis virus yang menginfeksi udang Penaeid

Tabel 2. Inang yang terinfeksi virus DNA dan RNA secara alami maupun eksperimental

Menurut Murdjani (2008), Diantara jenis penyakit yang paling banyak membawa kerugian karena terjadinya kematian adalah akibat penyakit bercak putih viral (WSSV), MBV(Monodon Baculo Virus) dan IHHNV(Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus). Penyakit jenis ini paling banyak ditemukan dan mengakibatkan kematian masal pada budidaya udang windu, baik teknologi intensif, semiintensif dan sederhana.

1. Penyakit bercak putih viral (White Spots Syndrome Virus, WSSV)

Penyakit yang paling sering ditemukan terkait dengan kematian adalah penyakit bercak putih viral. Udang yang terserang penyakit ini menunjukkan tanda adanya bercak putih di seluruh tubuhnya, dari karapas hingga pangkal ekor. Penyebab penyakit bercak putih viral adalah White Spots Syndrome Virus (WSSV), yang termasuk keluarga Nimaviridae (Gambar 4).

Gambar 4. Udang yang terserang bercak putih viral, terlihat bercak keputihanpada seluruh tubuh, dan karapas udang (kiri), gambar mikroskopi bercak (kanan).

Udang yang terserang virus bercak putih biasanya terlihat lemah, berenang ke tepi dan mati. Kematian masal umumnya terjadi dalam jangka waktu 3 hari sejak gejala pertama ditemukan. Selain bercak putih udang juga berlumut (Gambar 5), maka udang harus segera dipanen sebelum terjadi kematian lebih banyak. Apabila udang terserang masih kelihatan bersih, insang juga bersih maka perlakuan perbaikan kualitas lingkungan, pemberian vitamin C dan pemberian ikan rucah untuk merangsang nafsu makan, masih dapat membantu untuk penyembuhan.

Gambar 5. udang berlumut sebagai tingkat serangan akut.

2. Infeksi Monodon Baculo Virus (MBV)

Jenis virus MBV merupakan jenis virus yang umum ditemukan dalam budidaya udang pada sekitar tahun 1990, dan dikenal sebagai penyebab penyakit kematian udang umur 1 bulan (one month dead syndrome). Akibat serangan virus, banyak tambak yang gagal panen dan mengalami kematian prematur.

Monodon Baculo Virus (MBV) merupakan virus keluarga baculovirus, yaitu virus bentuk batang berbahan genetik DNA untai ganda (dsDNA, double strand deoxyribonucleic acid). Virus ini dalam inti sel inang yang terinfeksi membentuk occlusion body. Koloni virion dengan matriks berupa protein sebagai perekat membentuk kristal seperti bola dalam inti sel hepatopankreas udang yang terinfeksi (Gambar 4). Kristal virus seperti ini disebut sebagai occlusion body. Inti sel yang terinfeksi virus umumnya membesar (hypertrophied), berisi beberapa kristal virus yang berbentuk bulat. Jaringan yang terinfeksi virus selanjutnya akan segera mengalami kerusakan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Madeali, Tompo dan Muliani (1998), terjadi kelainan pada jaringan hepatopankreas yaitu inclusion body sebagai akibat kerja dari virus pathogen. Inclusion body yang nampak pada jaringan yang diamati merupakan ciri-ciri morfologi dari virus yang didasarkan atas petunjuk dari Lightner (1996). Penampakan secara morfologi dan inclusion body yang terjadi pada inti sel dalam jaringan udang yang terserang penyakit viral dapat dilihat pada gambar 6 dan gambar 7. Secara morfologi, gejala serangan penyakit viral yang disebabkan MBV dapat dilihat adanya perubahan warna kulit menjadi merah pada segmen (segmen merah) dan terdapat bercak putih pada bagian kulit udang yang terserang WSSV.

Gambar 6. Penampakan Hepatopankreas udang normal (A = nucleus berada ditengah sel), udang terserang MBV (B = Inclusion Body yang berwarna kemerahan), udang yang terserang WSBV (C = Inclusion Body yang berwarna merah jambu), dan udang yang terserang HPV (D = Inclusion Body yang berwarna violet).

Gambar 7. Penampakan secara morfologis udang sehat (A =warna hijau kehitaman), udang terserang MBV (B = warna merah pada abdomen) dan udang terserang WSBV ( C = spot putih pada karapas)

3. Infectious hematopoietic and hypodermal necrotic virus (IHHNV)

Jenis virus lain yang menginfeksi udang dan mengakibatkan kerugian adalah IHHNV (Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus). Udang yang terinfeksi virus ini tumbuh kerdil (Gambar 8). Dalam satu tambak dengan ukuran udang kerdil dengan porsi lebih dari 30% kemungkinan disebabkan oleh IHHNV. Multiinfeksi virus juga dapat terjadi pada satu tubuh udang, misalnya kombinasi dengan WSSV dan MBV (Monodon Baculo Virus).

Gambar 8. Udang kerdil karena terinfeksi IHHNV

Virus IHHNV merupakan virus dengan bahan asam nukleat untai tunggal (ssDNA) dari kelas parvovirus, yang dicirikan dengan adanya benda inklusi, inclussion body yaitu merupakan koloni virus dengan tanpa adanya matrik. Intisel yang terinfeksi virus biasanya membesar dibandingkan dengan normal. Diagnosis dilakukan dengan prosedur histopatologis, jaringan hepatopankreas menggunakan larutan fiksatif Davidson. Diagnosis positif dengan ditemukannya benda inklusi (koloni virus tanpa matriks) dalam inti sel yang terinfeksi (Gambar 9a dan 9b).

a

b

Gambar 9a. Infeksi monodon baculovirus pada hepatopankreas, terlihat occlusion bodies (tanda panah) pada hepatosit yang terinfeksi (kiri),

Gambar 9b.Infeksi hepatopancreaticparvo-like virus, terlihat inclussion bodies pada inti sel hepatosit (tanda kepala panah).

Serangan penyakit dapat mengakibatkan kematian masal hingga mencapai 100% dalam waktu yang sangat singkat yaitu hanya 2 hari sejak gejala pertama tampak. Udang yang terserang biasanya berenang ke tepi dekat pematang, lemah, kehilangan nafsu makan dan akhirnya mati.

Menurut anonim (1997), inclusion body merupakan timbunan yang abnormal dari massa protein di dalam sitoplasma ataupun nucleus yang terjadi akibat infeksi virus tertentu. Benda inklusi intanuklear dapat pula ditemukan pada tumor atau keracunan bahan toksik tertentu. Benda inklusi tersebut merupakan hasil penjuluran dari sitoplasma ke dalam nucleus. Perubahan makroskopik tergantung dari agen penyebab terbentuknya benda inklusi tertentu. Perubahan mikroskopik ditandai oleh adanya timbunan benda asing yang bentuknya bervariasi di dalam sitoplasma atau nukleus. Benda asing tersebut dapat berwarna eosinofilik, basofilik ataupun amfofilik.

  1. KESIMPULAN DAN SARAN
  1. Kesimpulan

1. Histopatologi adalah salah satu cara untuk mendeteksi adanya komponen pathogen yang bersifat infektif melalui pengamatan secara mikro antomi yang bertujuan untuk memeriksa penyakit berdasarkan pada reaksi perubahan jaringan.

2. Kelebihan metode ini adalah terdeteksinya penyakit infeksi pada ikan ataupun udang yang tidak menunjukkan gejala klinik sehingga mendeteksi sedini mungkin adanya penyakit metabolisme.

3. Diagnosis penyakit viral secara histopatologi dilakukan berdasarkan perubahan karakteristik jaringan.

  1. Saran

Pemeriksaan histopatolgi sebaiknya disertai dengan pengetahuan tentang gambaran histologi normal jaringan, respon jaringan terhadap etiologi dan patologi komparatif terhadap hewan-hewan kelas tingkat tinggi dan rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Adisukresno, S. 1994. Petunjuk Pelaksanaan Penanggulangan Penyakit Ikan. Direktorat Bina Sumber Hayati. Jakarta.

Anonim. 1997. Petunjuk Praktikum Patologi Sistematik. Laboratorium Patologi FKH-UGM. Yogyakarta.

Anonim. 2008. Histopatology. www.wikipedia.org>. Diakses tanggal 4 November 2008.

Fahris, N., Setyowati, J., dan Taslihan, A. 2004. Identifikasi Histologi Kondisi Malnutrisi dan Infeksi Patogen Pada Udang dan Ikan. Laporan Tahunan Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau. Jepara.

Kurniasih. 1999. Petunjuk Proses Jaringan dan Atlas Histologi Ikan. Laboratorium Patologi FKH-UGM. Yogyakarta. Jakarta.

Lightner, D. V. 1996. A handbook of Shrimp Pathology and Diagnostic Procedur for Diseases of Cultured Penaeid Shrimp. The World Aquaculture Society. Baton Rouge, Louisiana. USA.

Madeali, M.I., Tompo, A., Muliani. 1998. Diagnosis Penyakit Viral pada Udang Windu Penaeus monodon Secara Histopatologi dan Antibodi Poliklonal Dengan Metode Elisa. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 4: 11-18.

Murdjani, M. 2007. Penerapan Best Management Practise Pada Budidaya Udang Windu (Penaeus monodon Fabricius) Intensif. www.dkp.go.id>. Diakses tanggal 4 November 2008.

Purnomo, R., Hartono, P., dan Nirasari. 2002. Pengelolaan Kesehatan Ikan Budidaya Laut. Balai Budidaya Laut Lampung.

Scaperelaus, W. 1992. Fish Disease. Vol.I. A. A Balkema. Rotterdam.

Suntoro, S.H. 1983. Metode Pewarnaan; Histologi dan Histokimia. Bhratara Karya Aksara. Jakarta.

LAMPIRAN I

Lampiran 1.1 Mikrotom

Lampiran 1.2 Water Bath

Lampiran 1.3 automatic tissue processor

Lampiran 1.4 Waterbath bloking

Lampiran 1.5 Hasil Bloking parafin

Lampiran 1.6 slide

LAMPIRAN 2

DAFTAR ISTILAH DALAM APLIKASI HISTOPATOLOGI

1. Embedding

Teknik pencetakan organ dengan parafin (dengan titik didih 52-58 oC) untuk memudahkan pengaturandalam pemotongan jaringan.

2. Organ target

Organ yang menjadi sasaran infeksi patogen (virus) dan digunakan sebagai objek pemeriksaan.

3. Preparasi jaringan

Teknik pemotongan organ target penyakit virus tertentu untuk memudahkan dalam proses jaringan.

4. Hyperthropi

Peningkatan ukuran dari suatu jaringan, organ atau bagian tertentu dari tubuh yang disebabkan oleh meningkatnya ukuran dari sel.

5. Tissue processor

Alat dalam proses histopatologi bekerja secara automatis digunakan untuk memproses jaringan sampel untuk dehidrasi, clearing, infiltrasi dan paraffin.

6. Mikrotom

Alat yang dipergunakan sebagai tempat pisau untuk memotong jaringan sampel setebal 5 um.

7. Eosinofilik

Bagian sel seperti inti menyerap zat pewarna eosin sehingga berwarna merah.

8. Basofil

Bagian sel seperti inti yang menyerap zat pewarna Haematoxylen sehingga berwarna ungu atau biru.

9. Inclusion body

Suatu bentuk karena virus di dalam sel maupun inti sel yang ukurannya biasa lebih besar dari inti sehingga inti yang sesungguhnya berpindah ke dekat membran inti atau membran sel.

10. Sub kutikular

Bagian dari jaringan kutikular yang letaknya dibagian dalam (sebelum) kutikular (kulit).

11. Chepalothorax

Bagian tubuh yang merupakan gabungan dari dada(thorax) dan kepala (chepalo)

12. Hepatopankreas

Merupakan gabungan organ terdiri dari hepar (hati) dan pancreas.

13. Perinuclear

Menunjukkan tempat ditepi inti sel.

14. Piknotik

Adanya perubahan pada nukleus yang ditandai oleh adanya kondensasi kromatin nukleus menjadi suatu massa yang tercat lebih gelap dan bulat, homogeni dan lebih kecil dari nukleus normal.

15. Trimming

Teknik pemotongan blok parafin untuk memudahkan pemotongan contoh sampel pada mikrotom sehingga lebih efisien dan baik

16. Oklusion body

Adanya suatu bentuk karena virus didalam sel yang ukurannya bias lebih besar daripada inti, bias berkelompok maupun soliter.

17. Floating bath

Pemanas air pada suhu tertentu (40-45oC) untuk meregangkan hasil pemotongan jaringan dari mikrotom.

18. Karioreksis

Perubahan pada nukleus yang ditandai dengan adanya fragmentasi nukleus menjadi beberapa bagian kecil.

19. Fiksasi

Teknik pengawetan organ agar struktur sel dan jaringan tidak mengalami kerusakan akibat perubahan pasca mati

Diskusi

1. Penanya : Ahmad Mubarok

Dari beberapa jaringan yang ada seperti jaringan insang, chepalothorak, dan lainnya. Yang manakah yang paling efektif untuk dilakukan diagnose?

Jawab : Berdasarkan jaringan yang teramati dalam kasus diagnose, jaringan yang paling efektif untuk diamati adalah jaringan insang. Hal tersebut dikarenakan jaringan insang keberadaannya langsung kontak dengan lingkungan luar terutama perairan sehingga diduga paling awal terinfeksi oleh bakteri, jamur dan virus adalah insang. Selain itu, tidak dipungkiri juga bahwa di jaringan chepalothorak, liver, ginjal bila pada ikan juga sering terinfeksi oleh patogenitas karena jaringan tersebut merupakan lokasi organ terakumulasinya bahan-bahan racun dan patogenitas.

2. Penanya : Gilang Nuansa Desa

Bagaimana efektifitas deteksi histopatologi dengan PCR !!Manakah yang efektif?

Jawab : Histopatologi merupakan cabang biologi yang mempelajari kondisi dan fungsi jaringan dalam hubungannya dengan penyakit deteksi ini dapat digunakan untuk melihat gejala perubahan dalam jaringan yang mana belum mengakibatkan dampak pada organism udang sendiri sehingga dapat mendeteksi lebih awal terhadap kerusakan jaringan akibat virus atau bakteri lainnya. Bila dibandingkan dengan metode PCR, metode histology hanya dapat mendeteksi pada tingkat jaringan namub metode PCR sudah dapat deteksi pada tingkat strain DNA atau RNA virus tersebut dengan waktu deteksi yang relative singkat. Dengan demikian, diantara deteksi tersebut PCR memiliki keefektifan lebih untuk pemeriksaan virus.

3. Penanya : Ishak Katulistiwa

a. Dari tampilan slide sampel yang dijelaskan adalah tampilan chepalothorak, kenapa tidak dilakukan dijaringan itu untuk efektifitasnya?

Jawab : Sebenarnya tampilan untuk histology pada jaringan insang sudah ada hanya tidak dilampirkan dalam tampilan slide.keefektifan dalam deteksi virus sebaiknya tidak hanya pada insang karena dalam sebuah laboratorium kesehatan ikan, setiap sampel dating akan diambil bagian-bagian organ seperti organ dalam (hati, ginjal, usus, lambung, jantung pada ikan dan chepalotorak pada udang) dan organ keras (insang, mata dan otak).

b. Dalam keadaan seperti apa histopatologi dilakukan? Dan biayanya lebih mahal atau murah bila dibandingkan dengan diagnose yang lain?

Jawab : Histopatologi biasanya dilakukan saat keadaan disuatu tambak mendengar isu atau berita tentang wabahnya virus tertentu sehingga untuk penanggulangan perlu dilakukan histology dari sampel udang ditambak sehingga dapat diketahui kondisi udang secara jaringan mengalami keruskan atau tidak.

4. Penanya : Mas kentung

a. Berapa hari proses histopatologi biasanya dilakukan?

Jawab : Proses histology memerlukan waktu tersendiri dimana dalam histology terdapat tahap-tahap yang harus dilakukan seperti proses fiksasi, dehidrasi, clearing, infiltrasi, embedding, pewarnaan hingga pengamatan. Dari kesemua proses tersebut memakan waktu ± 1 minggu.

b. Untuk virus yang menyerang, virus tersebut menyerang udang dewasa atau udang saat panen?

Jawab : Sampel udang yang diamati biasanya tidak hanya pada udang yang hidup saat ditambak namun udang yang telah mati pun dapat dilakukan histology karena dapat digunakan untuk perbandingan perubahan jaringan yang terjadi

c. Mungkin tidak, dalam suatu tambak dilakukan diagnosis yang lain?

Jawab : Perlu, karena dalam pemeriksaan histopalogi bukan suatu exam finally, namun memerlukan uji lainnya seperti PCR untuk mendukung hasil uji yang diperoleh pada histology.

5. Penanya : Hari Tunggul Widodo

Mengapa pada udang digunakan larutan Davidson untuk proses fiksasinya?

Jawab : Pada udang untuk proses fiksasi direkomendasikan untuk menggunakan larutan Davidson karena hasil fiksasi untuk histology memiliki hasil yang paling baik daripada harus menggunakan larutan bouin atau buffer formalin.

  1. Penanya : bapak Susilo Budi Priyono, S.Pi, M.Si.

Apakah maksud dari kelebihan histopatologi dalam diagnosis lebih dini daripada metode-metode lainnya seperti PCR atau Elisa?

Jawab : Kelebihan metode histopatologi adalah dapat mengetahui perubahan kerusakan hanya pada tingkat jaringan dengan biaya yang relative tidak mahal, akan tetapi kecepatan dalam proses pendeteksian penyakit metode PCR dan Elisa lebih cepat pada tingkat DNA/ RNA dan tidak pada tingkat jaringan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar